Deteksi Tumbuh Kembang Bayi

SELAMAT DATANG DI BLOG IRWAN GRAVES TEMPAT SHARING MASALAH HUKUM DAN LAIN-LAIN SYA MENYEDIAKAN BERBAGAI MAKALAH BUAT KAWAN SEMUA SILAHKAN TELUSURI SETIAP POSTING Kali ini irwan graves akan share tentang Makalah , namun sebelumnya harab bersabar karena kita akan berbasa-basi dulu, kenapa selalu harus berbasa-basi ketika posting ? Karena itu adalah ciri khas irwan graves BAGI KAWAN YANG INGIN SHARE SILAHKAN COPAS LINK SAYA SELAMAT BERTELUSUR SEMOGA ARTIKEL YANG SAYA POSTING BERMANFAAT BAGI KAWAN SEMUA BUAT KAWAN SEMUA JANGAN LUPA TINGGALKAN KOMENTAR DARI ARTIKEL YANG SAYA POSTING

PENDAHULUAN

1.      1 LATAR BELAKANG
Adanya gangguan dan kelainan yang terjadi pada usia dewasa dapat dideteksi sejak balita. Dalam hal ini, peran orangtua dan dokter anak cukup besar. Setiap orangtua pasti ingin tumbuh kembang buah hatinya berjalan sempurna. Namun bagaimana jika ada gangguan dalam tahapan proses tumbuh kembang si kecil?
Anda bisa mengetahuinya melalui program Kementrian Kesehatan yang dilakukan dalam rangka peringatan Hari Anak Nasional, yakni dengan kegiatan Stimulasi Deteksi dan Intervensi Dini Tumbuh Kembang Anak (SDIDTK). SDIDTK merupakan rangkaian kegiatan atau pemeriksaan untuk menemukan penyimpangan tumbuh kembang secara dini agar lebih mudah diintervensi serta memberikan konseling kepada keluarga  bagaimana cara menstimulasi tumbuh kembang anak.
“Bila penyimpangan terlambat dideteksi, maka lebih sulit diintervensi dan akan berpengaruh pada tumbuh kembang anak,” kata Direktur Kesehatan Anak, Ditjen Bina Kesmas, Kementrian Kesehatan, Fatni Sulani.
Hasilnya, dari 476 anak yang diberi pelayanan SDIDTK, ditemukan 57 (11,9%) anak dengan kelainan tumbuh kembang. Adapun lima jenis kelainan tumbuh kembang yang paling banyak dijumpai adalah, Delayed Development (tumbuh kembang yang terlambat) sebanyak 22 anak, Global Delayed Development sebanyak 4 anak, gizi kurang sebayak 10 anak, Mikrochepali sebanyak 7 anak dan anak yang tidak mengalami kenaikan berat badan dalam beberapa bulan terakhir sebanyak 7 anak.
Kelainan tersebut bisa ditemukan dengan melakukan beberapa proses pemeriksaan mulai dari pengukuran lingkar kepala, ukuran tinggi badan dan memperhatikan beberapa deteksi dini penyimpangan sebagai berikut:
1.      Perhatikan Pertumbuhan, lihat status gizi anak apakah normal, kurang atau buruk, makrocephali dan mikrocephali.
2.      Perhatikan Perkembangannya, apakah mengalami kelemahan perkembangan, gangguan daya lihat dan daya dengar
3.      Perhatikan gangguan mental emosionalnya
4.      Autisme
5.      Perhatikan pula hiperaktivitas dan gangguan pemusatan perhatiannya.
Periode 5 (lima) tahun pertama kehidupan anak sering disebut juga sebagai "Masa Keemasan (golden period) atau Jendela Kesempatan (window opportunity) atau Masa Kritis (critical period)" karena periode ini merupakan masa pertumbuhan dan perkembangan yang paling pesat pada otak manusia, masa yang sangat peka bagi otak anak dalam menerima berbagai masukan dari lingkungan sekitarnya. 
Mengingat masa 5 tahun pertama merupakan masa yang  'relatif pendek'  dan tidak akan terulang kembali dalam kehidupan seorang anak, maka orang tua/pengasuh/pendidik/masyarakat dan tenaga kesehatan harus memanfaatkan kesempatan ini untuk membentuk anak menjadi anak yang berkualitas tinggi melalui kegiatan Stimulasi, Deteksi dan Intervensi Dini Tumbuh Kembang (SDIDTK).
Kebutuhan tumbuh kembang merupakan salah satu hak dasar anak sesuai Undang-undang Nomor 23 tahun 2003 tentang Perlindungan Anak dan Konvensi Hak-hak anak tahun 1989/1990. Oleh karena itu orang tua perlu mengupayakan agar anaknya bertumbuh dan berkembang optimal sesuai dengan potensi yang dimilikinya. Upaya yang dapat dilakukan adalah memenuhi kebutuhan dasar anak agar bertumbuh dan berkembang optimal termasuk melakukan kegiatan SDIDTK. Kegiatan SDIDTK meliputi:
1.      Stimulasi dini yang memadai, yaitu merangsang otak balita agar perkembangan kemampuan motorik (gerak kasar dan halus), berbicara, berbahasa, bersosialisasi dan kemandirian anak meningkat secara optimal sesuai usia anak.
2.      Deteksi dini, yaitu melakukan pemeriksaan/skrining atau mendeteksi sejak dini terhadap kemungkinan adanya penyimpangan tumbuh kembang balita.
3.      Intervensi dini, yaitu melakukan koreksi sejak dini dengan memanfaatkan plastisitas otak anak untuk memperbaiki bila ada penyimpangan tumbuh kembang, serta mencegah supaya penyimpangannya tidak menjadi lebih berat.
4.      Rujukan dini, yaitu merujuk/membawa anak ke fasilitas kesehatan bila masalah penyimpangan tumbuh kembang tidak dapat diatasi di tingkat rumah tangga meskipun sudah dilakukan intervensi dini.
  I. 2 RUMUSAN MASALAH
            Berdasarkan uraian pada latar belakang masalah diatas, muncul permasalahan
yang menjadi pembahasan dalam makalah ini, yaitu:
ü    Apa sajakan deteksi pertumbuhan bayi ?
ü    Apa sajakah deteksi perkembangan bayi dan balita ?
ü    Bagaimanakah aspek mental emosional tersebut ?

I.  3 TUJUAN DAN MANFAAT
A. Tujuan
      Berdasarkan pada rumusan masalah diatas, penulisan makalah ini bertujuan untuk mengetahui :
1)       Deteksi  pertumbuhan bayi.
2)       Deteksi perkembangan bayi dan balita.
3)       Aspek mental emosional.

B.     Manfaat
            Adapun manfaat yang bisa diperoleh dalam makalah ini adalah :
1)      Untuk menambah wawasan dan pengetahuan penulis tentang Deteksi Tumbuh Kembang Bayi dan Balita.
2)      Sebagai salah proses satu sumber dan bahan acuan bagi mahasiswa dalam mengikuti pembelajaran.









BAB III
PEMBAHASAN

1.1  DETEKSI PERTUMBUHAN BAYI
            Pertumbuhan adalah bertambahnya ukuran dan jumlah sel serta jaringan interseluler, berarti bertambahnya ukuran fisik dan struktur tubuh sebagian atau keseluruhan, sehingga dapat diukur dengan satuan panjang dan berat.
            Pertumbuhan (growth) berkaitan dengan masalah perubahan dalam ukuran fisik seseorang perkembangan (development) berkaitan dengan pematangan dan penambahan kemampuan (skill) fungsi organ atau individu.kedua proses ini terjadi secara sinkron pada setiap individu.n (s
A. Aspek pertumbuhan :
1. Timbang berat badannya(BB).
2. Ukuran tinggi badan (TB) dan lingkar kepalanya (LK).
3. Lihat garis pertambahan BB.TB,dan LK pada grafik.

1. Pengukuran Berat Badan (BB)
Ø  Tujuan pengukuran BB/TB adalah untuk menentukan status gizi anak apakah normal, kurus, kurus sekali atau gemuk.
Ø  Jadwal pengukuran BB/TB disesuaikan dengan jadwal deteksi tumbuh kembang balita. Pengukuran dan penilaian BB/TB dilakukan oleh tenaga kesehatan terlatih.

    Pengukuran BB :
a. Menggunakan timbangan bayi :
1.      Timbangan bayi digunakan untuk menimbang anak sampai umur 2 tahun atau selama anak masih bisa berbaring atau duduk tenang
2.      Letakkan timbangan pada meja yang datar dan tidak mudah bergoyang
3.      Lihat posisi jarum atau angka harus menunjuk ke angka nol
4.      Bayi sebaiknya telanjang, tanpa topi, kaos kaki dan sarung tangan
5.      Baringkan bayi dengan hati-hati di atas timbangan
6.      Lihat jarum timbangan sampai berhenti
7.      Baca angka yang ditunjukkan oleh jarum timbangan atau angka timbangan
8.      Bila bayi terus bergerak, perhatikan gerakan jarum, baca angka di tengah-tengah antara gerakan jarum ke kanan dan ke kiri

b. Menggunakan timbangan injak :
1.      Letakkan timbangan di lantai yang datar sehingga tidak mudah bergerak
2.      Lihat posisi jarum atau angka menunjuk angka nol
3.      Anak sbaiknya memakai baju sehari-hari yang tipis, tidak memakai alas kaki, jaket, topi, jam tangan, kalung dan tidak memegang sesuatu
4.      Anak berdiri di atas timbangan tanpa dipegangi
5.      Lihat jarum timbangan sampai berhenti
6.      Baca angka yang ditunjukkan oleh jarum timbangan atau angka timbangan
7.      Bila bayi terus bergerak, perhatikan gerakan jarum, baca angka di tengah-tengah antara gerakan jarum ke kanan dan ke kiri

2.      Pengukuran panjang badan (PB) atau tinggi badan (TB)
a. Cara mengukur dengan posisi berbaring :
1.      Sebaiknya dilakukan oleh 2 orang
2.      Bayi dibaringkan telentang pada alas yang datar
3.      Kepala bayi menempel pada pembatas angka nol
4.      Petugas 1 : kedua tangan memegang kepala bayi agar tetap menempel pada pembatas angka nol ( pembatas kepala)
5.      Petugas 2 : tangan kiri menekan lutut bayi agar lurus, tangan kanan menekan batas kaki ke telapak kaki
6.      Petugas 2 : membaca angka di tepi luar pengukur

b. Cara mengukur dengan posisi berdiri :
1.      Anak tidak memakai sandal atau sepatu
2.      Berdiri tegak menghadap ke depan
3.      Punggung, pantat dan tumit menempel pada tiang pengukur
4.      Turunkan batas atas pengukur sampai menempel di ubun-ubun
5.      Baca angka pada batas tersebut



3. Pengukuran lingkar kepala
Ø  Tujuan pengukuran
       Untuk mengetahui lingkar kepala anak dalam batas normal atau di luar batas normal
Ø  Jadwal pengukuran
       Disesuaikan dengan umur anak. Umur 0-11 bulan, pengukuran dilakukan setiap 3 bulan. Pada ank yang lebih besar, umur 12-27 bulan, pengukuran dilakukan setiap 6 bulan. Pengukuran dan penilaian kepala anak dilakukan oleh tenaga kesehatan terlatih
Ø  Cara mengukur lingkar kepala :
a.    Pengukuran dilingkarkan pada kepala anak melewati dahi, menutupi alis mata, di atas kedua telinga, dan bagian belakang kepala yang menonjol, tarik agak kencang
b.    Baca angka pada pertemuan dngan angka nol
c.    Tanyakan tanggal lahir bayi/ anak, hitung umur bayi atau anak
d.   Hasil pengukuran dicatat pada grafik lingkar kepala menurut umur dan jenis kelamin anak
e.    Buat garis yang menghubungkan antara ukuran yang lalu dengan ukuran sekarang

Ø  Lingkar Kepala, Berhubungan dengan perkembangan volume otak
1.      Lingkar kepala lebih besar dari normal (makrosefali))
      88% IQ normal,
      5 % keterbelakangan mental ringan,
      7 % keterbelakangan mental berat (Lober & Priestly, 1981)
2.   Lingkar kepala lebih kecil dari normal (mikrosefali) keterbelakangan mental.   

¥  Faktor penentu pertumbuhan anak :
a.    Internal :
     genetik : ayah, ibu, nenek, kakek, dst
     proses selama kehamilan : nutrisi, penyakit, obat, polusi, dll
b.    Eksternal: nutrisi, penyakit, polusi, aktivitas fisik sinkron pad setiap individu.

I. 2 DETEKSI PERKEMBANGAN BAYI DAN BALITA
Perkembangan adalah bertambahnya struktur dan fungsi tubuh yang kompleks dalam bidang motorik kasar, motorik halus, kemapuan berbahasa maupun sosialisasi dan kemandirian.
Ciri-ciri perkembangan adalah :
1. Perkembangan menimbulkan perubahan
     Karena perkembangan terjadi bersamaan dengan pertumbuhan maka setiap pertumbuhan disertai dengan perubahan fungsi. Perkembangan intelengensia menyertai pertumbuhan otak dan serabut syaraf.
2. Perkembangan awal menentukan perkembangan selanjutnya.
    Seorang anak tidak akan bisa melewati suatu tahap perkembangan sebelum ia melewati tahapan sebelumnya. Sebagai contoh : seorang anak tidak akan bisa berjalan sebelum ia bisa berdiri. Karena itu perkembangan awal merupakan masa kritis dan penentu.
3. Perkembangan memiliki pola yang tetap.
    Perkembangan fungsi organ tubuh terjadi menurut 2 hukum tetap, yaitu :
a. Perkembangan terjadi lebih dahulu di daerah kepala, kemudian menuju ke arah kaudal/ anggota tubuh (pola sefalokaudal).
b. Perkembangan lebih dahulu terjadi di daerah proksimal (gerakan kasar) lalu berkembang ke bagian distal seperti jari-jari yang mempunyai kemampuan gerakan halus (pola proksimodistal).
4. Perkembangan memiliki tahap yang berurutan.
    Tahapan perkembangan dilalui seorang anak mengikuti pola yang teratur dan berurutan. Tahap-tahap  tersebut tidak bisa terjadi terbalik, misalnya anak terlebih dahulu mampu membuat gambar kotak, berdiri sebelum berjalan dan sebagainya.
5. Perkembangan memiliki kecepatan yang berbeda.
    Seperti halnya pertumbuhan, perkembangan berlangsung dalam kecepatan yang berbeda-beda, baik dalam perkembangan fungsi organ maupun perkembangan pada masing-masing anak.
6. Perkembangan berkolerasi dengan pertumbuhan
    Pada saat pertumbuhan berlangsung cepat, perkembanganpun demikian, terjadi peningkatan mental, ingat, daya nalar, asosiasi dan lain-lain. Anak sehat, bertambah umur, bertambah berat dan tinggi badannya serta bertambah kepandaiannya.

a)      Deteksi penyimpangan perkembangan anak menggunakan Kuesioner Pra Skrining   Perkembangan (KPSP).
Ø  Tujuan deteksi/skrining ini untuk mengetahui apakah perkembangan anak normal atau tidak.
Ø  Jadwal skrining KPSP rutin dilakukan pada saat umur anak mencapai 3, 6, 9, 12, 15, 18, 21, 24, 30, 36, 42, 48, 54, 60, 66 dan 72 bulan. Bila orang tua datang dengan keluhan anaknya mempunyai masalah tumbuh kembang pada usia anak diluar jadwal skrining, maka gunakan KPSP untuk usia skrining terdekat yang lebih muda.  
Ø   
1.      Alat yang dipakai : Formulir KPSP menurut kelompok umur. Formulir KPSP berisi 9-10 pertanyaan tentang kemampuan perkembangan yang telah dicapai anak, petugas memeriksa/menanyakan kepada orang tua dan anak. Formulir KPSP tersedia untuk untuk setiap kelompok umur anak dari 3 bulan hingga 72 bulan.
2.      Interpretasi hasil KPSP : bila jawaban "Ya" mencapai 9-10 berarti perkembangan anak SESUAI dengan tahap perkembangannya, bila jawaban "Ya" berjumlah 7-8 berarti perkembangan anak MERAGUKAN, sedangkan bila jawaban "Ya" berjumlah 6 atau kurang berarti kemungkinan ada PENYIMPANGAN perkembangan anak.
¥  Bila perkembangan anak sesuai umur atau (S), lakukan tindakan sebagai berikut:
1.      Beri pujian kepada ibu karena telah mengasuh anaknya dengan baik.
2.      Teruskan pola asuh anak sesuai tahap perkembangan anak.
3.      Beri stimulasi perkembangan anak setiap saat, sesering, sesuai dengan umur dan kesiapan anak.
4.      Ikutkan anak pada kegiatan penimbangan dan pelayanan kesehatan di posyandu secara teratur sebulan sekali dan setiap ada kegiatan Bina Keluarga Balita. Jika anak sudah memasuki usia prasekolah (36- 72 bulan), anak dapat diikutkan pada kegiatan kelompok bermain dan TK.
5.      Lakukan pemeriksaan rutin menggunakan KPSP setap 3 bulan pada berumur kurang dari umur 24 bulan dan setiap 6 bulan pada umur 24 bulan sampai 72 bulan.
6.       
¥  Bila perkembangan anak meragukan (M), lakukan tindakan berikut:
1.      Beri petunjuk kepada ibu agar melakukan stimulasi perkembangan pada anak lebih sering lagi, setiap saat dan sesering mungkin.
2.      Ajarkan ibu cara melakukan intervensi stimulasi perkembangan anak untuk mengatasi penyimpanan/ mengejar ketinggalannya.
3.      Lakukan pemeriksaan kesehatan untuk mencari kemungkinan adanya penyakit yang menyebabkan penyimpangan/ mengejar ketinggalannya.
4.      Lakukan pemeriksaan kesehatan untuk mencari kemungkinan adanya penyakit yang menyebabkan penyimpangan perkembangannya.
5.      Lakukan penilaian ulanh KPSP 2 minggu kemudian dengan menggunakan daftar KPSP yang sesuai dengan umur anak.
6.      Jika hasil KPSP ulang jawabannya “ya” tetap 7 atau 8 maka kemungkinan ada penyimpanga (P).
7.      Bila tahapan perkembangan terjadi penyimpangan (P), lakukan tindakan sbb:
Rujuk ke RS, dengan menuliskan jenis dan jumlah penyimpangan perkembangan (gerak kasar, gerak halus, bicara, bahasa, sosialisasi dan kemanidirian)
b)     Tes Daya Dengar (TDD)
Ø  Tujuan tes ini untuk menemukan gangguan pendengaran sejak dini agar dapat segera ditindaklanjuti untuk meningkatkan kemampuan daya dengar dan bicara anak. Jadwal TDD setiap 3 bulan pada bayi (usia kurang dari 12 bulan), dan setiap 6 bulan pada anak usia 12 bulan keatas.
Ø  Jadwal : setiap 3 bulan pada bayi kurang dari 12 bulan dan setiap 6 bulan pada anak usia 12 bulan ke atas. Tes ini dilakukan oleh tenaga kesehatan, guru TK, tenaga PAUD, dan petugas terlatih lainnya.
1.      Pemeriksa memakai alat/instrumen TDD menurut usia anak, gambar-gambar binatang dan manusia serta mainan (boneka, cangkir, sendok dan bola). Pada anak usia kurang dari 24 bulan, semua pertanyaan dijawab oleh orang tua/pengasuh, sedangkan pada anak usia lebih dari 24 bulan, pertanyaan berupa perintah-perintah kepada anak melalui orang tua/pengasuh untuk dikerjakan anak. Pemeriksa mengamati dengan teliti kemampuan anak dalam melakukan perintah yang diinstruksikan oleh orang tua/pengasuh. Jawaban 'Ya' bila anak dapat melakukan yang diperintahkan, jawaban 'Tidak' bila anak tidak adapat atau tidak mau melakukan perintah.
2.      Interpretasi hasil pemeriksaan : Bila ada satu atau lebih jawaban "Tidak" kemungkinan anak mengalami gangguan pendengaran. Intervensinya: bila perlu pemeriksaan diulang 2 minggu kemudian untuk meyakinkan bahwa ada gangguan pendengaran. Anak dirujuk ke Rumah Sakit bila diduga mengalami gangguan pendengaran. 
c)      Tes Daya Lihat (TDL)
Ø  Tujuan tes ini untuk menemukan gangguan/kelainan daya lihat anak sejak dini agar dapat segera ditindaklanjuti sehingga kesempatan memperoleh ketajaman daya lihat menjadi lebih besar. Jadwal TDL setiap 6 bulan pada anak usia pra-sekolah (36-72 bulan). 
Ø  Jadwal : dilakukan setiap 6 bulan pada anak usia prasekolah umur 36- 72 bulan. Tes ini oleh tenaga kesehatan, guru TK, petugas PAUD terlatih.
1.      Alat yang diperlukan :
a.       Ruangan yang bersih, tenang dengan penyinaran yang baik.
b.      Dua buah kursi , satu untuk anak, satu untuk pemeriksa.
c.       Poster “E” untuk digantung dari kartu “E” untuk dipegang anak.
d.      Alat penunjuk
2.      Cara melakukan tes daya lihat :
a.                            Pilih suatu ruang bersih dan tenang dengan penyinaran yang baik.
b.                            Gantungkan poster “E” setinggi mata anak pada posisi duduk.
c.                            Letakkan sebuat kursi sejau 3 meter dari poster “E” mengahap ke poster “E”.
d.                           Letakkan sebuah kursi lainnya disamping poster “E” untuk pemeriksa.
e.       Pemeriksa memerikan kartu “E” pada anak. Latih anak dalam mengarahkan kartu E menghadap ke atas, bawah, kiri, kanan, sesuai ditunjuk pada poster “E” oleh pemeriksa, beri pujian setiap kali anak mau melakukannya. Lakukan hal ini sampai anak dapat mengarahkan kartu “E” dengan benar.
f.       Selanjutnya anak diminta menutup sebelah matanya dengan buku/ kertas
g.      Denga alat penunjuk, tunjuk huruf “E” pada poster satu- persatu mulai garis pertama sampai garis ke empat atau garis “E” terkecil yang masih dapat dilihat.
h.      Uji anak setiap kali dapat mencocokan posisi kartu “E” yang dipegangnya dengan huruf “E” pada poster.
i.        Ulangali pemeriksaan tersebut pad amata satunya dengan cara yang sama.
j.        Setiap kali anak mampu mencocokkan, berikan anak pujian.
3.    Interpretasi hasil pemeriksaan :
Bila anak tidak dapat mencocokkan sampai baris ketiga Poster E dengan kedua matanya maka diduga anak mengalami gangguan daya lihat. Untuk itu lakukan intervensi: Minta kepada orang tua agar membawa anaknya untuk memeriksa ulang 2 minggu kemudian. Bila pada pemeriksaan ulang 2 minggu kemudian didapati hasil yang sama maka kemungkinan anak memang mengalami gangguan daya lihat. Selanjutnya pemeriksa menganjurkan anak diperiksa ke Rumah Sakit dengan membawa surat rujukan yang berisi keterangan mata yang mengalami gangguan (mata kiri, kanan atau keduanya).
Ada 4 aspek yang dinilai dalam perkembangan:
  • Gerakan motorik kasar :
Aspek yang berhubungan dengan pergerakan dan sikap tubuh, terutama melibatkan otot-otot besar seperti duduk, berdiri, dll
  • Gerakan motorik halus :
Aspek yang berhubungan dengan kemampuan anak untuk mengamati sesuatu, melakukan gerakan yang melibatkan bagian-bagian tubuh tertentu dan dilakukan oleh otot-otot kecil, tetapi memerlukan koordinasi yang cermat.
  • Bahasa :
Kemampuan untuk memberikan respons terhadap suara, mengikuti perintah dan berbicara spontan.
  • Sosialisasi dan kemandirian :
Aspek yang berhubungan dengan kemampuan mandiri, bersoialisasi dan berinteraksi dengan lingkungannya.


Perkembangan Gerak kasar
           
Tengkurap bolak balik
Duduk tanpa pegangan
Berdiri berpegangan
Berdiri tanpa berpegangan
Berdiri sendiri
Berjalan lancar
Lari

(Persentil 90 Denver II)

5.4       bulan
6.8       bulan
8.5       bulan
11.6     bulan
13.7     bulan
14.9     bulan
19.9     bulan





Personal-sosial P 90

Tersenyum spontan
Memasukan mainan/ kue ke mulut
Bertepuk tanganMelambaikan tangan (da-da)

Denver II

2.1       bulan
6.5       bulan
11.4     bulan
14        bulan






Gerak halus

Memegang mainan
Memasukan mainan ke cangkir
Mencoret-coret
Menumpuk mainan



3.9       bulan
10.9     bulan
16.3     bulan
20.6     bulan



Perkembangan Bahasa / bicara / komunikasi

Tertawa
Berteriak, mengoceh
Memanggil mama, papa
Bicara 2 kata
Bicara 6 kata
Menunjuk gambar
P90 Denver II


3.1       bulan
4.3       bulan
13.3     bulan
16.5     bulan
21.4     bulan
23.6     bulan



I. 3 ASPEK MENTAL EMOSIONAL
Deteksi dini penyimpangan mental emosional adalah kegiatan atau pemeriksaan untuk menemukan secara dini adanya masalah mental emosional,autisme dan gangguan pemusatan perhatian dan hiperaktivitas pada anak,agar dapat segera dilakukan tindakan intervensi.
Ø  Tujuan pemeriksaan ini untuk menemukan secara dini adanya masalah mental emosional, autisme dan gangguan pemusatan perhatian dan hiperaktifitas pada anak agar dapat segera dilakukan tindakan intervensi.
Ø  Jadwal deteksi dini masalah mental emosional adalah rutin setiap 6 bulan, dilakukan untuk anak yang berusia 36 bulan sampai 72 bulan. Jadwal ini sesuai  dengan jadwal skrining/pemeriksaan perkembangan anak.
Alat yang digunakan untuk mendeteksi yaitu :
a.   Kuesioner masalah mental emosional (KMME) Bagi anak umur 36 bulan-72 bulan
b.   Ceklis autis anak pra sekolah Checklist for Autism in Toddlers (CHAT) bagi anak umur 18-36 bulan.
c.   Folmulir deteksi dini Gangguan Pemusatan Perhatiaan dan Hiperaktivitas (GPPH) Menggunakan Abreviated Conner Ratting Scale Bagi ank umur 36 bulan keatas.

A.  Kuesioner masalah mental emosional (KMME) Bagi anak umur 36 bulan - 72 bulan
Ø  Tujuannya adalah untuk mendeteksi secara dini adanya penyimpangan atau masalah mental emosional pada anak prasekolah.
Ø  Jadwal deteksi dini masalah mental emosional adalah rutin setiap 6 bulan pada anak umur 36-72 bulan.Jadwal ini sesuai dengan jadwal skrining atau pemeriksaan perkembangan anak.
1.      Alat yang digunakan adalah KMME yang terdiri dari 12 pertanyaan untuk mengenali problem mental emosional anak umur 36-72 bulan.
2.      Cara melakukan:
Tanyakan setiap
® pertanyaan dengan lambat,jelas dan nyaring satu persatu perilaku yang tertulis pada KMME Kepada orang tua atau pengasuh anak.
 Catat jawaban “Ya”,Kemudian hitung jumlah jawaban “YA”
®
3.      Interpretasi :
Bila ada jawaban “YA”,Maka kemungkinan anak mengalami masalah mental emosional.
Bila jawaban “ya” hanya 1 :
1. Lakukan konseling kepada orang tua menggunakan Buku Pedoman Pola Asuh yang memdukung Perkembangan Anak
2. Lakukan evaluasi setelah 3 bulan, bila tidak ada perubahan rujuk ke Rumah Sakit yang memiliki fasilitas kesehatan jiwa atau tumbuh kembang anak.
 Bila jawaban “ya” ditemukan 2 atau lebih : Rujuk ke rumah sakit yang memiliki fasilitas kesehatan jiwa atau tumbuh kembang anak.Rujukan harus disertai informasi mengenai jumlah dan masalah mental emosional yang ditemukan.

B.  Ceklis autis anak pra sekolah Checklist for Autism in Toddlers (CHAT) bagi anak umur 18-36 bulan.
Ø  Tujuanya adalah untuk mendeteksi secara dini adanya autism pada anak umur 18-36 bulan.
Ø  Jadwal deteksi dini autism pada anak prasekolah dilakukan atas indikasi atau bila ada keluhan dari ibu atau pengasuh anak atau ada kecurigaan tenaga kesehatan, kader kesehatan, BKB, petugas PAUD, pengolah TPA dan guru TK. Keluhan tersebut dapat berubah berupa salah satu atau lebih keadaan di bawah ini :
a)  Keterlambatan bicara
b)  Gangguan komunikasi atau interaksi sosial
c)  Perilaku yang berulang-ulang.
1.   Alat yang digunakan adalah CHAT.CHAT ini ada dua jenis pertanyaan, yaitu :
a.  Ada 9 pertanyaan yang dijawab oleh orang tua pengasuh anak.
     Pertanyaan diajukan secara berurutan, satu persatu. Jelaskan kepada orang tua  untuk tidak ragu-ragu atau takut menjawab.
b.  Ada 5 pertanyaan bagi anak, untuk melaksanakan tugas seperti yang tertulis CHAT.
2.      Cara menggunakan CHAT
a.  Ajukan pertanyaan dengan lambat, jelas dan nyaring, satu-persatu perilaku yang tertulis pada CHAT kepada orang tua atau pengasuh anak.
b.  Lakukan pengamatan kemampuan anak sesuai dengan tugas CHAT.
c.  Catat jawaban orang tua atau pengasuh anak dan kesimpulan hasil pengamatan kemampuan anak, ya atau tidak.Teliti kembali apakah semua pertanyaan telah dijawab.
3.      Interpretasi
a.  Resiko tinggi menderita autis : bila jawaban “tidak” pada pertanyaan A5, A7,   B2, B3 dan B4.
b.  Resiko rendah menderita autis : bila jawaban “tidak” pada pertanyaan A7 dan B4.
c.  Kemungkinan gangguan perkembangan lain : bila jawaban “tidak” jumlahnya 3 atau lebih untuk pertanyaan A1-A4, A6, A8, A9, B1 dan B5.
d.  Anak dalam batas normal bila tidak termasuk dalam kategori 1,2,dan 3.
4.                 
      Bila anak resiko menderita autis atau kemungkinan ada gangguan perkembangan, rujuk ke rumah sakit yang memiliki fasilitas kesehatan jiwa/tumbuh kembang anak.


C.  Folmulir deteksi dini Gangguan Pemusatan Perhatiaan dan Hiperaktivitas (GPPH) Menggunakan Abreviated Conner Ratting Scale Bagi ank umur 36 bulan keatas.
Ø  Tujuanya adalah untuk mengetahui secara dini pada anak adanya GPPH pada anak umur 36 bulan ke atas.
Ø  Jadwal deteksi dini GPPH pada anak prasekolah dilakukan atas indikasi atau bila ada keluhan dari orang tua atau pengasuh anak atau ada kecurigaan tenaga kesehatan, kader kesehatan, BKB, petugas PAUD, pengelola TPA dan guru TK.Keluhan tersebut dapat berupa salah satu atau lebih keadaan di bawah ini :
•   Anak tidak bisa duduk tenang
•   Anak selalu bergerak tanpa tujuan dan tidak mengenal lelah
•   Perubahan suasana hati yang mendadak atau impulsif
Ø   
1.      Alat yang digunakan adalah formulir deteksi dini GPPH formulir ini terdiri dari 10 pertanyaan yang ditanyakan kepada orang tua atau pengasuh anak atau guru TK dan pertanyaan yang perlu pengamatan pemeriksa.
2.      Cara menggunakan formulir deteksi dini GPPH :
·         Ajukan pertanyaan dengan lambat, jelas dan nyaring, satu-persatu perilaku yang tertulis pada formulir deteksi dini GPPH. Jelaskan kepada orang tua atau pengasuh anak untuk tidak ragu-ragu atau takut menjawab.
·         Lakukan pengamatan kemampuan anak sesuai dengan pertanyaan pada formulir deteksi dini GPPH.
·         Keadaan yang ditanyakan atau diamati ada pada anak dimanapun anak berada, misal ketika di rumah, sekolah, pasar, toko, dan lain-lain.Setiap saat dan ketika anak denngan siapa saja.
·         Catat jawaban dan hasil pengamatan perilaku anak selama dilakukan pemeriksaan. Teliti kembali apakah semua pertanyaan telah dijawab.
3.   Interpretasi
      Beri nilai pada masing-masing jawaban sesuai dengan bobot nilai berikut ini dan jumlahkan nilai masing-masing jawaban menjadi nilai total.
•   Nilai 0 : jika keadaan tersebut tidak ditemukan pada anak
•   Nilai 1 : jika keadaan tersebut kadang-kadang ditemukan pada anak
•   Nilai 2 : jika keadaan tersebut sering ditemukan pada anak
•   Nilai 3 : jika keadaan tersebut selalu ada pada anak.
Bila nila total 13 atau lebih anak kemungkinan dengan GPPH
4.   Intervensi :
     a. anak dengan kemungkinan GPPH perlu dirujuk ke RS yang memiliki fasilitas kesehatan jiwa/ tumbuh kembang anak.
     b. bila nilai total kurang dari 1 tetapi anda ragu- ragu jadwalkan pemeriksaan ulang 1 bulan kemudian. ajukan pertanyaan kepada orang- orang terdekat dengan anak






Jenis deteksi dini yang harus dilakukan berdasarkan umur anak
Jenis deteksi dini tumbuh kembang yang harus menurut kelompok umur anak dapat dilihat pada bagan di bawah ini.


Keterangan:








BAB III
PENUTUP

I. 1 KESIMPULAN
Dari hasil pembahasan diatas maka dapat disimpulkan bahwa :
            Pertumbuhan adalah bertambahnya ukuran dan jumlah sel serta jaringan interseluler, berarti bertambahnya ukuran fisik dan struktur tubuh sebagian atau keseluruhan, sehingga dapat diukur dengan satuan panjang dan berat.
¥  Aspek pertumbuhan :
1. Timbang berat badannya(BB).
2. Ukuran tinggi badan (TB) dan lingkar kepalanya (LK).
3. Lihat garis pertambahan BB.TB,dan LK pada grafik.

Perkembangan adalah bertambahnya struktur dan fungsi tubuh yang kompleks dalam bidang motorik kasar, motorik halus, kemapuan berbahasa maupun sosialisasi dan kemandirian.
¥  Aspek perkembangan :
1.      Deteksi penyimpangan perkembangan anak menggunakan Kuesioner Pra Skrining   Perkembangan (KPSP).
2.      Tes Daya Dengar (TDD)
3.      Tes Daya Dengar (TDD)
Deteksi dini penyimpangan mental emosional adalah kegiatan atau pemeriksaan untuk menemukan secara dini adanya masalah mental emosional,autisme dan gangguan pemusatan perhatian dan hiperaktivitas pada anak, agar dapat segera dilakukan tindakan intervensi.
¥  Alat yang dipakai untuk skrining penyimpangan mental emosional adalah:
  1. Kuesioner Masalah Mental Emosional (KMME) bagi anak usia 36-72 bulan.
  2. Ceklis Autis anak pra-sekolah atau Checklist for Autism in Toddlers (CHAT) bagi anak usia 18-36 bulan.
  3. Formulir deteksi dini Gangguan Pemusatan Perhatian dan Hiperaktifitas (GPPH) bagi anak usia 36 bulan keatas (pra-sekolah).


I. 2 SARAN
Kami menyadari bahwa dalam penulisan makalah ini masih banyak terdapat kekeliruan maupun kesalahan baik dari segi penyusun maupun penulisannya sehingga dengan kerendahan hati kami mengharapkan kritik dan saran yang bersifat membangun. Hal ini bertujuan untuk memberikan kami motifasi dalam usaha memperbaiki kesalahan-kesalahan agar pembuatan makalah berikutnya jauh lebih baik.

Ditulis Oleh : irwansyah Hari: Jumat, Juni 08, 2012 Kategori:

0 komentar:

Poskan Komentar

jangan lupa komentar yah