FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI KEJADIAN VAGINITIS DI POLI KANDUNGAN BLUD RUMAH SAKIT UMUM PROVINSI SULTRA TAHUN 2012

FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI KEJADIAN VAGINITIS DI POLI KANDUNGAN BLUD RUMAH SAKIT UMUM PROVINSI SULTRA TAHUN 2012 BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Kesehatan reproduksi adalah suatu keadaan sejahtera fisik, mental dan sosial secara utuh, tidak semata-mata bebas dari penyakit atau kecacatan dalam semua hal yang berkaitan dengan sistem reproduksi, serta fungsi dan prosesnya (Widyastuti, 2009)
Secara umum alat reproduksi wanita dibagi atas dua bagian yaitu alat kelamin (genetalia) luar dan alat kelamin bagian dalam (Manuaba, 2007). Anatomi genetalia eksterna (alat kelamin bagian luar) dari wanita lebih sederhana dibandingkan laki-laki, hal itu karena sebagian besar alat reproduksi wanita berada di rongga panggul, sehingga genetalia interna (alat kelamin wanita bagian dalam) lebih kompleks. Karena itu, evaluasi terhadap fungsi alat reproduksi wanita lebih rumit dibandingkan dengan laki-laki. Genetalia eksterna wanita terdiri dari labium mayus, labium minus, clitoris dan liang vagina (Santosa, 2007).
Sama seperti tubuh kita, organ reproduksi kita juga rentan terkena penyakit apabila kita kurang memperhatikan kebersihan dan kesehatannya. Pada wanita dapat timbul penyakit mulai dari keputihan hingga kanker pada leher rahim, rahim, indung telur, payudara, vagina atau pun saluran telur. Sebelum terlambat, alangkah baiknya apabila kita dapat mencegah penyakit-penyakit tersebut menyerang organ reproduksi kita, salah satunya dengan senantiasa merawat dan menjaga kebersihan organ reproduksi kita. Merawat kebersihan daerah pribadi (organ seksual), mungkin tidak kita lakukan sesering merawat kebersihan organ tubuh lainnya. Padahal kebersihan pada daerah tersebut, juga membutuhkan perhatian yang ekstra. Oleh karena pada daerah-daerah organ seksual tersebut keringat yang dihasilkan cukup berlebih. Sehingga daerah tersebut menjadi lebih lembab, yang dapat menimbulkan bakteri, penyakit dan bau tidak sedap berkembang-biak dengan baik (Piogama, 2009).
Kesehatan reproduksi di kalangan wanita harus memperoleh perhatian yang serius. Beberapa penyakit infeksi organ reproduksi wanita adalah trikomoniasis, vaginosis bakterial, kandidiasis vulvo vaginitis, gonore, klamidia,  sifilis. Salah satu gejala dan tanda-tanda penyakit infeksi organ reproduksi wanita adalah terjadinya keputihan. Keputihan merupakan salah satu masalah yang sejak lama menjadi persoalan bagi kaum wanita (Dwiana, 2008).
Vaginitis merupakan peradangan pada vagina yang terjadi karena perubahan keseimbangan normal bakteri yang hidup disana. Tanda atau gejala paling umum adalah munculnya cairan yang berwarna putih keruh keabuan dan berbusa serta menimbulkan bau kurang sedap. Vagina pada dasarnya memiliki organism alamiah untuk selalu membersihkan sendiri. Mekanisme ini berlangsung dalam jumlah kecil tiap hari. Proses pembersihan ini juga dibantu oleh bakteri-bakteri komersial yaitu bakteri yang memang hidup dalam vagina dan menjaga vagina dari infeksi kuman lain (Livoti & Topp, 2006).
Di Amerika Serikat terdapat sekitar 7.4 juta kasus baru vaginitis setiap tahun. Secara global  WHO memperkirakan terdapat sekitar 180 juta kasus baru tiap tahunnya di seluruh dunia. Sementara angka prevalensinya bervariasi. 5% pada klien KB dan 75% pada pekerja seks. Vaginitis memiliki angka infeksi gabungan yang cukup tinggi dengan penyakit menular lain. Seperti ; Gonore, yang diketahui berhubungan secara signifikan dengan infeksi trikomoniasis. Trikomoniasis penyebab vaginitis juga memfasilitasi penularan human immunodeficiency virus (HIV), terjadi diseluruh dunia, mengenai sekitar 180 juta/tahun, 15% pada wanita dan 10% pria dengan seksualitas aktif . Di USA, infeksi ini merupakan salah satu penyebab terbanyak PMS dengan insiden 2-3 juta/tahun.
Pada tahun 2005 di Jakarta prevalensi infeksi saluran reproduksi yang terjadi yaitu candidiasis 6,7%, tricomoniasis 5,4% dan bacterial vaginosis 5,1%. Menurut data tahun 2007 di Indonesia prevalensi infeksi saluran reproduksi sebagai berikut bacterial vaginosis 53% serta vaginal kandidiasis 3%. Tahun 2008 prevalensi infeksi saluran reproduksi pada remaja putrid dan wanita dewasa yang disebabkan oleh bacterial vaginosis sebesar 465, candidia albicans 29%, dan tricomoniasis 12%  (Elistyawaty, 2009).
Ada beberapa faktor yang mempengaruhi kejadian infeksi vaginitis diantaranya adalah tingkat pendidikan, pengetahuan tentang infeksi vagina atau vaginitis, perilaku penggunaan pembersih vagina, kebersihan alat kelamin, cakupan air bersih, berganti-ganti pasangan seksual dan pemeriksaan kesehatan secara rutin.
Jamur dan bakteri banyak tumbuh dalam kondisi tidak bersih dan lembab. Organ reproduksi merupakan daerah tertutup dan berlipat, sehingga lebih mudah untuk berkeringat, lembab dan kotor. Perilaku buruk dalam menjaga kebersihan genitalia, seperti mencucinya dengan air kotor, memakai pembilas secara berlebihan, menggunakan celana yang tidak menyerap keringat, jarang mengganti celana dalam, tak sering mengganti pembalut dapat menjadi pencetus timbulnya infeksi yang menyebabkan keputihan tersebut. Jadi, pengetahuan dan perilaku dalam menjaga kebersihan genitalia eksterna merupakan faktor penting dalam pencegahan kejadian vaginitis (Mandals, dkk. 2006).
Menurut Dharmawan (2007), angka skrining vaginitis di Indonesia berkisar antara 75-85%. Angka ini sangat tinggi, hal tersebut dapat terjadi karena tingkat pendidikan yang rendah sehingga masyarakat mengalami kurangnya pengetahuan tentang faktor-faktor yang mempengaruhi kejadian vaginitis.
Berdasarkan data di Poli Kandungan BLUD Rumah sakit Umum Provinsi Sultra bahwa pada tahun 2010 jumlah penderita vaginitis sebanyak 324 orang, pada tahun 2011 sebanyak 335 orang dan pada bulan Januari sampai Maret 2012 jumlah penderita vaginitis sebanyak 97 orang. Hasil wawancara calon peneliti dengan 5 orang ibu tersebut, 4 ibu mengatakan tidak mengetahui penyebab infeksi vagina secara pasti, ada ibu yang menggunakan pembersih alat kelamin biasanya mereka menggunakan sehabis menstruasi atau pada waktu mengalami keputihan saja.
Melihat fenomena di atas, peneliti tertarik untuk melakukan penelitian dengan judul faktor-faktor yang mempengaruhi kejadian vaginitis di Poli Kandungan BLUD Rumah Sakit Umum Provinsi Sultra tahun 2012.

B. Rumusan Masalah
Berdasarkan uraian latar belakang di atas, maka rumusan masalah dari penelitian ini adalah “ Faktor-faktor apa yang mempengaruhi kejadian vaginitis di Poli Kandungan BLUD Rumah Sakit Umum Provinsi Sultra tahun 2012 ?
C. Tujuan
1. Tujuan Umum
Untuk mengetahui faktor-faktor yang mempengaruhi kejadian vaginitis di Poli Kandungan BLUD Rumah Sakit Umum Provinsi Sultra tahun 2012.
2. Tujuan Khusus
a. Untuk mengetahui pengaruh pengetahuan terhadap kejadian vaginitis di Poli Kandungan BLUD Rumah Sakit Umum Provinsi Sultra tahun 2012
b. Untuk mengetahui pengaruh sikap terhadap kejadian vaginitis di Poli Kandungan BLUD Rumah Sakit Umum Provinsi Sultra tahun 2012
c. Untuk mengetahui pengaruh tindakan terhadap kejadian vaginitis di Poli Kandungan BLUD Rumah Sakit Umum Provinsi Sultra tahun 2012
d. Untuk mengetahui pengaruh personal hygiene terhadap kejadian vaginitis di Poli Kandungan BLUD Rumah Sakit Umum Provinsi Sultra tahun 2012




D. Manfaat penelitian
1. Masyarakat
Untuk memberikan informasi tentang adanya kejadian infeksi Trichomonas atau bacterial vaginalis terutama bagi pasien di Poli Kandungan
2. Bagi BLUD RSU Provinsi Sultra
Berupaya memberi pengetahuan tentang infeksi Trichomonas/bacterial vaginalis supaya masyarakat terhindar dari penularan infeksi Trichomonas/bacterial vaginalis.
3. Bagi peneliti
Hasil penelitian ini dapt menjadi acuan lebih lanjut bagi peneliti selanjutnya untuk mengetahui beberapa faktor yang berhubungan dengan  kejadian infeksi Trichomonas/bacterial vaginalis pada ibu rumah tangga



UNTUK LEBIH LENGKAPNYA HUBUNGI NOMER INI 085255536889

Ditulis Oleh : irwansyah Hari: Minggu, Juni 03, 2012 Kategori:

0 komentar:

Poskan Komentar

jangan lupa komentar yah